Kebo – Keboan Ritual Magis Masyarakat Banyuwangi

0 Comments
Kebo – Keboan Ritual Magis Masyarakat Banyuwangi

Kebo – Keboan Ritual Magis Masyarakat Banyuwangi – Banyuwangi punya cerita. Selama beberapa tahun terakhir Banyuwangi berkembang pesat baik dari sektor perekonomian, pemerintahan, kesejahteraan masyarakat, hingga seni budaya. Banyak yang tertarik dengan kebudayan di Banyuwangi karena keanekaragamannya. Selain faktor masyarakat yang masih menjaga erat kebudayaan yang ada, pemerintah setempat juga ikut andil besar melestarikan budaya yang ada. Tidak tanggung – tanggung setiap tahun selalu diadakan berbagai macam festival sebagai bentuk ungkapan rasa cinta terhadap Banyuwangi. Ada festival ngopi sepuluh ewu yang bertempat di desa kemiren, ada festival gandrung sewu yang di selenggarakan di pantai boom, kebo – keboan yang bertempat di desa Aliyan dan Alas malang dan masih banyak lagi.

Kebo – Keboan Ritual Magis Masyarakat Banyuwangi
Kebo – Keboan Ritual Magis Masyarakat Banyuwangi

Mengulas tentang kebo – keboan yang ada di desa Aliyan dan Alasmalang, kebo – keboan merupakan upacara tahunan yang dilakukan oleh masyarakat setempat. Sedikit mistis, upacara ini berhubungan roh leluhur. Masyarakat desa melangsungkan upacara untuk memohon kepada para leluluhur untuk memberkati desa. Biasanya kebo – keboan di laksanakan ketika kemarau panjang, tujuannya untuk meminta diturunkan hujan serta mengusir berbagai penyakit dan marabahaya sebagai tolak bala. Upacara yang rutin di gelar setahun sekali ini selalu ditunggu – tunggu oleh masyarakat. Biasanya dilakukan di bulan suro. Kebayakan ritual yang berhubungan dengan para leluhur di laksanakan di bulan suro karena bulan suro dianggap bulan yang sakral. Penghubung antara dunia nyata dan dunia ghaib terbuka di bulan ini. Masyarakat banyuwangi kebanyakan masih sangat kental ikatannya dengan hal – hal ghaib dan mistis.

Kebo berarti kerbau, sedangkan kebo – keboan berarti berarti replika kerbau. Ketika upacara di laksanakan ada sekelompok orang yang di tunjuk untuk memerankan peran sebagai kerbau. Orang – orang yang terpilih akan di dandani mirip kerbau. Badannya di lumuri cairan hitam yang terbuat dari arang dan oli. Di bagian kepala akan di pasang sesuatu yang menerupai tanduk kerbau. Badan yang berlumur cat hitam melambangkan sosok kerbau yang kuat. Melambangkan kekuatan kerbau ketika menjadi partner petani di sawah. Tidak lupa lonceng ikut di pasang ditubuh orang – orang yang terpilih agar semakin mirip dan mendalami peran sebagai kebo – keboan. Ketika ritual di jalankan mereka bermain peran menyerupai tindak tanduk kerbau. Para pemeran menarik bajak mengelilingi desa setempat. Satu hari sebelum upacara dilaksanakan orang – orang yang terpilih memerankan kebo – keboan akan di beri mantra oleh sesepuh desa dan setelah itu akan di masuki oleh roh leluhur. Ketika roh leluhur masuk ke tubuh mereka perilaku mereka akan menyerupai kerbau asli. Pemeran tidak semata – mata di tunjuk untuk memerankan peran kebo – keboan tetapi ditunjuk langsung oleh roh leluhur. Pemeran yang dimasuki roh leluhur itu yang terpilih sebagai sosok kebo – keboan.

Ritual di laksanakan di sawah, di sana di sediakan kubangan lumpur untuk tempat berguling – guling kebo – keboan. Semua warga berkumpul untuk memeriahkan acara. Ketika para kebo – keboan kesurupan mereka tidak sadar akan perilaku mereka. Mereka di kendalikan oleh roh leluhur, ketika mereka melakukan interaksi dengan warga seperti mengendus, menyeduruk, menarik warga ke dalam kubangan lumpur warga setempat harus memaklumi karena itu bagian dari ritual yang di jalankan. Benih padi yang dibawa para kebo – keboan apabila ditanam dipercaya akan membuat hasil panen melimpah dan mendatangkan keberkahan bagi desa.

Hingga saat ini upacara kebo – keboan masih dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat. Pemerintah pun ikut melindungi tradisi ini dengan memberikan fasilitas saat ritual di laksanakan. Pemerintah tidak merubah ritual yang ada hanya menjadi wadah agar upacara tidak sekedar upacara tetapi dikemas lebih baik untuk memberi kesan yang lebih mendalam. Banyak yang mengapresiasi langkah pemerintah yang teguh dan konsisten melindungi kebudayaan yang ada. Kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah adalah kunci mengapa budaya yang ada di Banyuwangi masih terjaga dengan baik. Masyarakat tidak malu dengan budaya tradisional setempat. Mengesampingkan budaya modern yang ada dan memilih kebudayaan lama untuk dijadikan sebagai karakter diri masyarakat. Mau berpartisipasi baik tenaga maupun biaya. Budaya gotong royong dan saling bantu antar sesama masih terasa sekali.

Ketika kita mau menjaga kebudayaan kita dengan sepenuh hati, kebudayaan itu pula yang akan melindungi kita. Menjaga kita dari pengaruh buruk budaya luar. Menjadi benteng untuk tetap berjalan sesuai dengan norma dan etika. Budaya – budaya yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa bisa di minimalisir pengaruhnya apabila kebudaayn asli masih menyatu dengan masyarakat. Bukan berarti menolak kebudayaan baru, di zaman serba menggunakan teknologi seperti sekarang ini sulit untuk mengontrol pengaruh budaya asing masuk ke tanah air. Tetapi masih banyak jalan untuk tetap menjaga jati diri bangsa dengan menjaga kebudayaan asli masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *