JFC Sebagai Ikon Baru Kota Jember

0 Comments
JFC Sebagai Ikon Baru Kota Jember

JFC Sebagai Ikon Baru Kota Jember – Jika bicara soal Jember ada beberapa kekhasan yang menjadi daya tarik kota Jember. Mulai dari kuliner, kebudayaan, pariwisata, hingga fashion. Kuliner khas jember yang terkenal adalah edamame atau lebih akrab disebut kedelai jepang. Kualitasnya di atas kedelai – keledai yang di produksi oleh petani Indonesia. Bicara kebudayaan ada banyak kebudayaan yang ada di jember salah satunya adalah can macanan kaduk.

Can macanan kaduk adalah seni tradisional mirip barong shai tetapi berasal dari jember. Dari sektor pariwisata juga tak kalah, ada pantai papuma , pantai watu ulo, pantai payangan, wisata terbaru yang sedang marak di kunjungi adalah kebun teh gunung gambir. Fashion, jember saat ini sudah dikenal oleh dunia. JFC (Jember Fashion Carnaval) yang mengantarkan kota Jember merambah ke dunia internasional.

JFC Sebagai Ikon Baru Kota Jember
JFC Sebagai Ikon Baru Kota Jember

JFC pertama kali di selenggarakan pada tahun 2003 silam dirintis dan dikelola oleh Dynand Fariz. Sebelum ada JFC jember tidak memiliki kontribusi di dunia fashion. Setelah JFC dirilis dan berhasil dikembangkan, kota Jember menjadi sorotan dunia. JFC merupakan sebuah pertunjukan fashion. Tetapi ada yang berbeda dari JFC jika di bandingkan oleh pertunjukan fashion yang lain.

Pertunjukan fashion biasanya hanya menampilkan model – model yang berjalan di catwalk dengan mengenakan busana rancangan desainer. Tetapi JFC berbeda, JFC memberi warna lain. Tidak sekedar menggelar pertunjukan tetapi sekaligus menggelar karnaval. Model – model tidak berjalan di atas catwalk tetapi berjalan di jalan raya kota Jember sembari mengenakan kostum – kostum dengan tema yang beragam.

Selain bergelut di dunia fashion, JFC merupakan salah satu media yang di gunakan untuk melestarikan budaya dan mengenalkan budaya Indonesia kepada dunia. Tema yang diangkat JFC mengangkat budaya – budaya daerah. Di tuangkan dalam kostum – kostum rancangan desainer. Meski sudah apa perpaduan dengan budaya modern, kostum – kostum yang dirancang tetap mengahdirkan nuansa kedaerahan.

Setiap detailnya dikerjakan dengan teliti dan dibuat sedemikian rupa memadukan unsur tradisional dengan unsur modern sehingga mampu menghasilkan busana modern bernuansa etnik. Tidak kalah dengan rancangan busana karya desainer terkenal seperti alexander wang, rancangan busana JFC mampu bersaing di kancah internasional.

JFC juga digunakan sebagai wadah untuk menampung anak – anak negeri yang berminat di dunia fashion. Mereka di bimbing dengan baik. Apabila dirasa mampu, mereka diberi kesempatan untuk mendesain busana mereka sendiri ketika pertunjukan digelar, tidak hanya berjalan di catwalk mengenakan busana rangcangan orang lain. Dari JFC sudah banyak lahir desainer – desainer muda berbakat yang siap mengembang sayap di kancah nasional maupun internasional. Desainer – desainer muda ini di berikan berbagai fasilitas untuk mengeksplore kreatifitas dan ide mereka. Mereka bebas berkarya apa saja, menciptakan busana yang mereka inginkan dan mengenalkan ke dunia luar.

Setiap tahun JFC menarik perhatian masyarakat, media, pemerintah, dan wisatawan manca negara. Setiap tahun warga masyarakat berebut tempat terdepan untuk menyaksikan pertunjukan yang di gelar. Karena selain peragaan busana, JFC juga menampilkan tarian dan teatrikal. Menari ketika memperagakan busana sangatlah unik, ini yang menjadi salah satu daya tarik JFC.

JFC sebelum terkenal seperti sekarang sempat mengalami pasang surut di awal masa perintisan. Perintisnya, Dynand Fariz sempat ditolak oleh pemerintah setempat ketika menawarkan kerjasama. Alasan ditolaknya ajakan kerjasama itu di karenakan peragaan yang akan diselenggarakan terlalu kebarat-baratan. Sedangkan kondisi pada saat itu terjadi gencatan senjata oleh Amerika kepada irak. Tetapi tak berhenti sampai disitu Dynand fariz terus berusaha hingga akhirnya pada Desember 2002 JFC mengantongi izin dari pemerintah dan pada 2003 pagelaran JFC yang pertaman digelar.

Jember adalah salah satu kabupaten yang masyarakat hanya berasal dari akulturasi budaya. Yaitu budaya jawa dan madura yang melebur menjadi satu dan membentuk kebudayaan baru yaitu budaya Pendalungan. Akibat bersatunya kedua kebudayaan tersebut Jember tidak memiliki suatu ciri yang khas untuk menggambarkan kota Jember. Karena hal itu JFC di gunakan sebagai alternatif baru untuk mengenalkan Jember. JFC adalah ikon kota Jember yang sangat istimewa dan unik.

Banyak sekali media yang dapat digunakan untuk mengenalkan dan melestarikan budaya Indonesia yang beraneka ragam. Ada yang melalui lukisan, tulisan, masakan, hingga pagelaran. JFC memilih jalan Fashion untuk berkontribusi dalam pelestarian kebudayaan indonesia. Tanpa mengurangi nuansa Etniknya pertunjukan di selenggarakan dengan cara modern. Perpaduan ini menjadikan masyarakat tertarik untuk ikut menyaksikan. Tidak hanya menyaksikan saja tetapi ikut belajar dan memahami bahwa Indonesia memiliki banyak sekali ragam budaya dari sabang hingga merauke. Tidak hanya berputar pada budaya jawa saja tetapi juga seluruh penjuru daerah Indonesia. Masyarakat internasional pun ikut mengenal dan memahami apa itu Indonesia. Indonesia dengan beribu – ribu budaya yang ada.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *